Tentang Kebijakan Energi Nasional

Meskipun Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral berkali-kali menyatakan bahwa Indonesia sudah memiliki kebijakan energi nasional sejak tahun 1980, namun dalam kenyataannya baru setelah keluarnya Peraturan Peresiden Nomor 5 tahun 2005 tentang Kebijakan Energi Nasional, secara resmi masyarakat mengetahui tentang adanya kebijakan tersebut. Sebelum itu banyak pihak yang meragukan keberadaan kebijakan energi pemerintah, mengingat masalah energi masih sering muncul (Kompas 28 Mei 2005).

Kebijakan yang dituangkan dalam PP No. 5 Tahun 2005 bertujuan untuk mengarahkan upaya-upaya dalam mewujudkan keamanan pasokan (security of supply) energi dalam negeri (Pasal 2 ayat 1). Kebijakan ini memiliki sasaran dalam bentuk penurunan elestisitas energi dan optimalisasi pemanfaatan sumber-sumber energi primer.

Elastisitas energi didefinisikan sebagai rasio antara tingkat pertumbuhan konsumsi energi dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. (Pasal 1 butir 8). Penurunan elastisitas energi yang diharapkan adalah agar lebih kecil dari 1 pada tahun 2025, sebagaimana dinegara maju.

Menurut data dari BP Statistical Review of World Energy (Juni 2008), konsumsi energi primer tahunan Amerika Serikat, Jepang, dan Indonesia di tahun 2007 masing-masing besarnya 2361,4 juta, 517,4 juta, dan 114,6 juta TOE. Dengan jumlah penduduk AS, Jepang, dan Indonesia masing-masing sekitar 306 juta, 127 juta, dan 225 juta jiwa berarti konsumsi energi per kapita di ketiga negara tersebut besarnya 7,72, 4,07, dan 0,51 juta TOE per kapita. Sepintas terlihat di antara ketiga negara tersebut, Indonesia adalah negara yang paling irit dalam pemakaian energi karena konsumsi energi per kapita-nya terendah.

TOE (Ton of Oil Equivalent) adalah satuan yang sering digunakan orang untuk menyatakan banyaknya konsumsi energi. TOE artinya berat/massa suatu jenis energi yang dapat menghasilkan kalori (entalfi) setara dengan 1 ton minyak bumi.

Ternyata konsumsi energi per kapita bukanlah tolak ukur untuk mengetahui apakah suatu negara hemat atau boros energi. Para ekonom sepakat bahwa elastisitas dan intensitas energi adalah dua parameter yang digunakan untuk mengukur sejauh mana sebuah negara efisien dalam mengkonsumsi energi. Kedua parameter ini merupakan besaran relatif. Elastisitas energi adalah pertumbuhan kebutuhan energi yang diperlukan untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi (GDP) tertentu. Sedangkan intensitas energi adalah energi yang dibutuhkan untuk meningkatkan gross domestic product (GDP) atau produk domestik bruto sebesar 1 juta dollar AS.

Menurut riset yang yang dilakukan oleh PT Energy Management Indonesia (EMI), angka elastisitas energi di Indonesia mencapai 1,84. Artinya, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 1% saja, maka konsumsi energi Indonesia harus naik 1,84%. Kalau pertumbuhan ekonomi Indonesia katakanlah 6%, maka diperlukan tambahan penyediaan energi sebesar 11%. Masih menurut EMI, dengan angka elastisitas tersebut Indonesia termasuk negara paling boros energi di ASEAN. Indonesia cukup tertinggal dalam hal konservasi atau penghematan energi. Negara tetangga lain di bawah angka tersebut. Malaysia, misalnya, angka elastisitasnya 1,69. Thailand 1,16, Singapura 1,1. Vietnam bahkan juga di bawah angka elastisitas Indonesia. Jangan bandingkan dengan Jepang, umpamanya, yang angka elastisitasnya sudah mencapai 0,1. Untuk beberapa negara Eropa, ada yang angka elastisitas energinya minus. Artinya, saat ekonomi tumbuh, laju konsumsi energi justru turun. Ini menunjukkan konservasi energi berjalan sangat baik. Dari sisi angka intensitas energi, untuk meningkatkan GDP sebesar 1 juta dollas AS Indonesia membutuhkan tambahan energi sebesar 482 TOE. Sementara rata-rata intensitas energi lima negara tetangga di kawasan ASEAN hanya sekitar 358 TOE. Bahkan angka intensitas energi Jepang hanya 92 TOE.

Tingginya angka elastisitas dan intensitas energi, menurut beberapa kalangan, mengindikasikan rendahnya daya saing industri kita karena terjadi inefisiensi energi. Mengacu pada Perpres No. 5/2006 pada tahun 2025 nanti Pemerintah menargetkan angka elastisitas energi kita turun di bawah 1 melalui berbagai upaya konservasi (penghematan) dan diversifikasi energi. Diagram di bawah – yang saya dapatkan dari salah seorang nara sumber dari Ditjen Migas – menunjukkan energy mix (bauran energi) tahun 2006 dan skenario tahun 2025.

Sebenarnya menentukan boros atau tidaknya sebuah negara berdasarkan pada angka elastisitas dan intensitas energy adalah kurang fair, karena pertumbuhan kebutuhan energi sebuah negara baru tergantung pada tingkat pertumbuhan indusrinya. Ketika industri dan ekonominya tumbuh pesat, maka konsumsi energinya akan meningkat secara signifikan. Ketika negara tersebut sudah mapan dan mampu menyeimbangkan berbagai kebutuhan nasionalnya, maka konsumsi energi berada dalam fase ekuilibrium – relatif konstan – sehingga rendah elastisitasnya.

Jika angka konsumsi energi per kapita kita dibandingkan dengan negara industri maju, jelas konsumsi energi kita masih berada dalam fase pertumbuhan, sehingga konsumsi per kapita akan meningkat terus sampai tercapai kondisi ekuilibrium tertentu. Meskipun demikian, himbauan untuk melakukan penghematan dan diversifikasi energi wajib kita dukung demi generasi anak cucu kita, karena yang tersedia di alam dan dapat dimanfaatkan langsung oleh manusia bukanlah tidak terbatas.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s