Mengapa LPG menjadi Langka

LPG atau Liquid Petroleum Gas adalah salah satu hasil pengilangan minyak bumi dengan unsur kimia propana dan butana. Ini berbeda dengan LNG atau Liquid Natural Gas (Gas Alam Cair) dengan unsur kimia metana dan etana. Kalau LPG didistribusikan dalam tabung gas 3 kg, 12 kg dan 50 kg oleh Pertamina, maka LNG didistribusikan dengan pipa oleh PGN atau lewat stasiun BBG pada kendaraan-kendaraan yang telah dimodifikasi (misalnya Busway Transjakarta koridor 2 dan 3).

Karena LPG dibuat dari minyak bumi maka penyebab kelangkaan LPG secara logika adalah disebabkan oleh karena bahan baku minyak bumi tidak mencukupi atau karena kapasitas kilang minyak kita tidak mampu memenuhi kebutuhan konsumen. Akibatnya kita harus lebih banyak mengimpor LPG dari Singapura yang memiliki kapasitas kilang lebih besar.

Dari sisi ini terlihat bahwa kebijakan konversi minyak tanah ke LPG sama sekali tidak memperhatikan masalah kapasitas kilang. Sehingga dalam waktu singkat langsung berdampak pada kenaikan harga, apalagi jika harga minyak mentah di pasar dunia naik tajam. Sialnya, pada saat harga minyak mentah turun, jalur distribusi produk kilang BBM akan bereaksi untuk mengurangi penyaluran BBM (termasuk LPG) agar tidak merugi, mengingat harga eceran produk BBM yang besar kemungkinan akan turun.
Kondisi ini semuanya berasal dari kebijakan energi yang tidak berwawasan dan dimulai dengan cara memaksa masyarakat untuk mengkonsumsi jenis energi yang lebih mahal, yaitu BBM (termasuk LPG) sedangkan LNG yang jauh lebih murah dan ramah lingkungan; malah diekspor habis-habisan ke Cina, Singapura atau Korea dengan harga murah

Dalam situasi seperti ini, hal mendesak yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah adalah segera menjadikan momentum krisis elpiji ini sebagai titik awal untuk melakukan reformasi pengelolaan sektor energi. Misalnya dengan langkah-langkah mengkaji ulang regulasi yang berkaitan dengan pengelolaan energi yang tidak pro rakyat ini. Setelah itu membuat standarisasi suplai & kebutuhan sektor gas dalam negeri dengan memaksimalkan peran daerah untuk melakukan kerja-kerja pendataan dan distribusi.

Program konversi minyak tanah ke gas sebetulnya dikipasi Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF). Alasannya, program tersebut sarat dengan kepentingan perusahaan minyak internasional dan aparat birokrasi. Program itu konyol, arahnya hanya untuk impor mengingat keterbatasan gas LPG kita. Jelas kan kalau impor siapa yang diuntungkan, tentu aparat birokrasi dan asing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s