Skenario Penghancuran PLN & Pertamina & Harga Keekonomian

Saat ini mungkin hampir semua warga masyarakat kecewa dengan kinerja pelayanan dua BUMN terbesar kita yaitu PLN dan Pertamina. Listrik yang byar-pet dan BBM yang sering langka menjadi bahan omelan tak tentu arah. Sayangnya sebagian besar anggota masyarakat kita sebenarnya tidak faham tentang inti persoalan, ditambah lagi dengan sulitnya memperoleh informasi yang lengkap dan tuntas tentang hal ini.

Lalu apakah vonis masyarakat kepada PLN dan Pertamina sebagai perusahaan tak becus dan tidak professional menjadi kekhawatiran bagi pemerintah? Jawabannya adalah tidak, sebab semakin tinggi ketidak-percayaan masyarakat kepada PLN dan Pertamina semakin kuat keyakinan para pejabat tinggi negara terhadap opini yang mengatakan bahwa PLN dan Pertamina memang harus di privatisasi, dan justru persoalan inilah yang telah lama menjadi bagian dari sebuah skenario besar yang selalu dikaitkan dengan penghapusan subsidi pemerintah.

Absennya protes terhadap program unbundling & privatisasi (asing) adalah kelanjutan semangat liberalisasi dari UU Migas No 22 Tahun 2001. UU ini secara tegas mengacu pada liberalisasi sektor migas, karena itu harga BBM akan dilepas ke mekanisme pasar (pasal 28 ayat 2). Untuk itu secara sistematis disesuaikan menuju harga dunia dengan dalih pengurangan subsidi. Lucunya, meskipun pasal dari UU ini telah digugurkan oleh Mahkamah Konstitusi karena bertentangan dengan UUD 1945, pemerintah tetap ngotot menghadirkannya kembali dengan mengganti istilahnya menjadi harga keekonomian.

Harga keekonomian BBM – liberalisasi yang melawan Konstitusi

Pada saat pemerintah menaikkan harga BBM, latar belakangnya bukanlah seperti yang dikampanyekan seperti untuk mengoreksi yang tidak tepat sasaran, untuk menghemat konsumsi BBM, untuk menghindari penyelundupan dan sebagainya. Alasan sebenarnya ditandatanganinya LOI 1998 dengan IMF yang sepakat untuk melepas harga BBM ke harga internasional.

Ini sebenarnya bukan soal naik atau turunnya harga, tapi soal proses bertahap untuk melepas harga BBM ke harga pasar sesuai garis IMF, dan itu sudah difollow up oleh pemerintah yang sejak 1999 sudah membuat draft UU Migas yang baru. Yang jadi masalah kemudian, segera setelah UU Migas disahkan, pemerintah segera membuka izin bagi perusahaan-perusahaan asing untuk masuk ke berbagai tahap dalam proses migas di tanah air, mulai dari hulu sampai ke hilir. Dan bahkan mereka mengendalikan izin untuk perusahaan asing untuk membuka SPBU, sampai lebih dari 40 perusahaan yang sudah pegang izin untuk membuka SPBU itu. Masing-masing perusahaan diberi kesempatan membuka sekitar 20.000 SPBU di seluruh Indonesia.

Target sebenarnya pada 2005 adalah melepas harga BBM ke pasar, hanya saja di tengah jalan UU Migas tersebut dibawa ke Mahmakah Konstitusi (MK) oleh SP Pertamina, dan oleh MK, pasal 28 tentang pelepasan harga ke pasar itu dibatalkan, karena bertentangan dengan konstitusi. Agar dapat berkelit dari keputusan MK dimunculkan istilah baru sebagai pengganti harga pasar, yaitu “harga keekonomian”, barang yang sama dengan kemasan baru.

Karena itu setelah kenaikan harga BBM tahun 2005, Shell dan Petronas mulai membuka usaha SBPU-nya. Tapi tidak masuk akal kalau mereka diizinkan membuka SPBU itu hanya di Jabotabek saja, untuk itu izin yang mereka peroleh adalah membuka 20.000 SPBU di seluruh Indonesia. Pertamina sendiri diperkirakan hanya akan mampu menjual maksimal 50 persen saja, dan 50 persen lainnya akan diambil oleh SPBU-SPBU asing itu. Jadi alasan kenaikan harga BBM sudah ada sebelum alasan penanggulangan kemiskinan dimunculkan. Hal itu sebenarnya hanya untuk meredam gejolak sosial, agar tidak menimbulkan konflik baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s